Tugu Bubur Ayam Telan Dana 200 juta


 

tugu bubur ayam

literasi.web.idPembangunan tugu bubur ayam di Jalan Nasional-Puncak ( pertigaan pegadaian Pacet ) menuai banyak pro dan kontra, pasalnya tugu senilai 200 itu tidak sesuai dengan filosofi Cianjur.

Seperti dikutip dari laman pikiran-rakyat.com,  Budayawan Cianjur Eko Wiwit mempertanyakan, makna dibalik tugu bubur tersebut. “Apa ada sejarah mendalam dari semangkuk bubur itu, yang berkaitan dengan terbentuknya Cianjur?,” kata dia, Rabu 23 Mei 2018.

Menurut Eko, sama seperti tugu lain yang sudah berdiri, pembangunan tugu bubur seolah tidak berdasar. Pemerintah yang saat ini getol membangun tugu dianggap, hanya membangun tapi melupakan filosofi maupun nilai sejarah dari karya terkait.

Eko mengatakan, jika ingin memenuhi kesejarahan atau tokoh legenda, pemerintah dapat membangun tugu maupun monumen yang erat kaitannya dengan sosok berpengaruh atau sejarah lokal.

“Misalnya saja, sosok Dalem Cikundul yang digambarkan dalam cerita “Kuda Kosong”, atau yang berkaitan dengan Cikundul dan Gunung Gede. Atau, bahkan bisa juga kisah hidup sosok Presiden Soekarno di Cipanas,” ujar Eko.

Selain pengalihan jalur angkot, penanaman pohon kelapa di trotoar jalan Cianjur dan pembangunan tugu, masyarakat menilai kebijakan pemerintah kerap kali berseberangan dengan keinginan masyarakat.

Penduduk Cianjur yang berjumlah 2 juta lebih itu sekarang lebih kritis terkait kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Aspirasi masyarakat sangat dipentingkan dalam pembangunan suatu daerah khususnya Cianjur supaya segala bentuk kebijakan tidak menjadi buah bibir yang terus menerus.

Banyak masyarakat menilai, pemerintah seolah-olah tidak menanggapi segala bentuk aspirasi yang dikeluarkan masyarakat dan ini menjadi bahan evaluasi untuk kemajuan roda pemerintahan.

Iklan